Minggu, 07 Januari 2018

12 Oktober 2002... 1 Oktober 2005...

Setelah sekian tahun membiarkan blog ini terlantar begitu saja karena tumpukan tugas-tugas... Kali ini saya ingin berbagi apa yang saya alami sekitar 15 tahun 3 bulan yang silam... Dan 12 tahun 3 bulan silam...

Beberapa postingan di grup horor Fb dan blog-blog lainnya pasti sudah pernah membacanya kan? Ya, kejadian sebelum bom Bali itu. Sebab itu memang saya yang alami... Kadang-kadang saya geli sendiri kalau baca artikel-artikel yang di-repost oleh beberapa blogger lain. Sepertinya saya harus banyak memberikan koreksi... hehehehe...Banyak yang salah tulis atau malah lebay...hehehe...

Terlepas dari hal mistis dan tragedi yang menyelimutinya, tragedi Bom Bali I ini sulit saya lupakan. Saya memang tidak mengalami ledakan bom yang luar biasa tersebut, dan bukan korban pula. Setidaknya, momen sebelum bom (yang mana melihat "tanda" tersebut) maupun sekitar seminggu setelah ledakan bom benar-benar saya ingat sekali. Setiap saya melali ke Kuta, apalagi pas lewati Legian... Wah... Memori itu datang sergap menyergap... Sampai sekarang, saya masih merinding kalau mengingat hal-hal itu semua.

12 Oktober 2012
Saat itu saya masih kelas 4 SD. Di memori bocah ingusan yang baru kenal komputer dan game Age of Empires, yang saya tahu hanyalah main. Dulu, saya tinggal di Banjar Tuban-Griya, Kompleks Bandara Ngurah Rai, Tuban Barat. Sekarang kompleks perumahan itu sudah digusur menjadi lahan parkir bandara. Di kompleks yang sama, ada sekolah SD saya, SDN 6 Tuban (yang kemudian sempat berganti nama jadi SDN 4 Tuban), ada sekolah SMP Angkasa, dan sebuah masjid kompleks bandara yang kecil, namanya Masjid Al-Ikhlas. Semua bangunan tersebut diruntuhkan saat perluasan bandara, sedangkan Masjid Al-Ikhlas direnovasi menjadi masjid Bandara Ngurah Rai. Masjid bandara lainnya ada di kawasan kompleks perumahan bandara lainnya, di Tuban Tengah (sekarang juga sudah digusur, jadi jalan raya baru), namanya Masjid Nurul Huda. Di sampingnya ada sebuah gereja dan pura. Tiga tempat ibadah yang berdekatan sekali. Jadi ingat, dahulu pas Tarawih dan kebetulan sedang Purnama, umat Hindu juga ada melakukan persembahyangan, bacaan surah Quran berpadu dengan bacaan doa-doa mantram umat Hindu.

Di kompleks Tuban barat, saya tinggal di Jalan Talang Betutu no.9, dekat sekali dengan lapangan luas yang sering dipakai untuk Shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Dan, saya pun juga ingat saat tengah melaksanakan salat Id tersebut, tentara dan Pecalang (polisi adat masyarakat Bali) turut serta menjaga prosesi peribadatan agar teteap khidmat. Jalan Talang Betutu itu merupakan jalan utama di kompleks perumahan bandara, jadi setiap pagi, siang, dan sore ada saja suara motor dan mobil yang melintas. Apalagi malam minggu, para pemuda dan pemudi bermalam-mingguan di lapangan seberang rumah.

Namun, tidak untuk malam itu... Jam 10 malam... Ya, sekitar jam segitulah... 12 Oktober 2002...

Seperti biasa, saya cuci muka dan gosok gigi. Kebiasaan yang sangat baik, namun yang satu ini jangan ditiru ya... :v Dulu, saya suka sekali sikat gigi, tapi bukan di kamar mandi, suka-suka saya mau sikat gigi di mana... Kadang di kamar, kadang di dapur, kadang di ruang makan.... Dan kebetulan saat itu saya sikat gigi di ruang tamu. Malam minggu 12 Oktober saat itu sangat sepi, tidak seperti biasanya. Motor-motor tidak lalu lalang di kompleks perumahan...

Ruang tamu saya letaknya menghadap ke arah jalan utama, berhadapan langsung dengan rumah tetangga. Jendela besar-besar menghadap ke arah rumah tetangga (utara) dan ke arah taman serta garasi (barat). Rupanya, malam itu saya "salah" menyibak korden. Saya sibak korden jendela yang menghadap ke arah barat, persis samping pintu kaca. Saat itu saya masih memegang gagang sikat gigi. Dan... ya... "dia" pun saya lihat.

Bengong saya menatap asap putih berbentuk tengkorak tersebut, besar sekali di langit. Kalau pernah nonton Harry Potter, kira-kira seperti itulah... Cuma, tanpa ada ular, ukurannya lebih besar, dan ukuran kepalanya itu seperti memenuhi sepertiga pandangan mata ke langit... Bisa ngebayang? Kalau tanda tengkorak yang di Harry Potter diam, nah yang ini kayak komat-kamit ngucapin sesuatu. Plus gerakannya yang seperti menggeleng-geleng kepala. Arah tatapannya tidak persis ke arah saya, dia menatap ke arah timur, agak serong ke utara. Coba bayangkan, bagaimana rasanya melihat pemandangan ganjil seperti itu? Hmm... :) It is such a sensation you know.... :v

Saking bengongnya, saya sampai berhenti menggosok gigi. Saya amati agak lama. Belum ada perasaan takut saat itu. Bibir rasanya tercekat. Mau panggil "emak" dan "bapak" pun gak kepikiran. Mematung saya memandangi "fenomena alam yang menakjubkan" tersebut. Butuh beberapa detik yang lama sejak pertama kali melihat hingga secara reflek saya tutup kembali gorden tersebut. Saya pun masih belum menggerakkan gagang sikat gigi saya. Saya berasumsi, "ah, itu cuma lampu badai"... Saya pikir, ada yang sedang menyorot lampu besar ke arah langit, yang biasa kalau lagi konser-konser gitu... Tapi saya mikir lagi, "kok bentuknya realistis banget ya?". Bener-bener guratan tengkoraknya itu kelihatan sekali, dari tulang hidung, rongga mata, lekukan pelipis, plus jajaran gigi-giginya.

Andai saja, kalian ada di posisi saya saat itu, apakah akan membuka korden sekali lagi? Kalau saya, ya... saya buka lagi... Saya ingin pastikan, apakah itu halusinasi atau bukan... Dan saya sibak korden sekali lagi, ternyata pemandangan yang masih sama ada... Masih "nemplok" di langit, dengan pose, dan tingkah yang sama. Barulah... saat itu saya langsung merinding. Saya takut... Sebab, ini bukan halusinasi... Ya, saya lihat secara real , nyata, live. Mendadak, saya ada perasaan sebentar lagi ada kejadian.

Langsung saja, korden saya tutup. Saya tuntasin gosok gigi di kamar mandi cepat-cepat. Selesai kumur-kumur langsung ke kamar tidur. Ga berani saya buka-buka korden lagi. Saya dah ga ingat mau panggil ibu dan bapak. Langsung saja tidur. Ya... Saya tidur...

Sepenuturan ibu saya, saat jam 11 malam, ibu saya masih terbangun. Saat itu, menurut ibu saya, terdengar suara seperti ledakan mercon besar sekali yang diikuti getaran kaca, dinding, dan lantai. Ibu saya berpikir "ada apa ini? main petasan besar sekali...". Dari Legian ke rumah saya, kira-kira jaraknya sekitar 2.5-3 km. Ibu saya tidak berpikir macam-macam lagi. Langsung tidur.

Sementara itu, teman SD saya, tinggal di Tuban Timur, Kampung Bugis, dia bilang saat suara ledakan terdengar sampai galon Aqua yang kosong terjatuh. Teman SMA saya pernah cerita juga, saat bom meledak di Legian dia pun mendengarnya, padahal rumah dia ada di dekat Ubung. Intinya keras sekali ledakan tersebut.

Paginya saya bangun dan beraktivitas biasa. Ibu saya saat pagi harinya sempat melihat ada orang dari luar kompleks buang sampah di tempat sampah depan rumah. Depan rumah saya ada kotak sampah besar, letaknya persis di samping rumah tetangga depan saya. Orang itu membuang beberapa kerdus. Setelah itu dia pergi. Ibu saya curiga dengan isi kardus yang dibuang. Kebetulan ada seorang pemulung yang lewat, ibu pun meminta tolong si pemulung untuk coba buka kerdus. Setelah dibuka, isinya kosong. Alhamdulillah.... Dikira apaan... Saat itu, ibu masih belum tahu bom telah meledak di Legian-Kuta.

Biasa, sebagai anak kecil yang suka nonton film kartun. Saya langsung cari channel, mau nonton doraemon. Saat itu terkejut saya, banyak stasiun TV memberitakan ada bom di Legian-Kuta. Setelah siang, semakin banyak ada berita bom. Termasuk saat nonton Bali TV. Waw... Merinding saya. Apalagi saat diberitakan bom meledak sekitar pukul 11 malam... Hmm... Bulu kuduk berdiri semua... Sebab, saya jadi ingat kejadian semalam. Saya sempat berpikir, apa itu "tanda"? "Firasat"? Entahlah... Saya tak punya ide sama sekali tentang apa yang saya lihat malam kemarin... Sempat saya cerita ke keluarga tentang apa yang saya lihat, mereka hanya bilang " Ah, cuma halusinasi..."

Sampai saya SMP, saya kadang membaca kejadian-kejadian mistis sebelum maupun sesudah bom bali itu. Ada yang bilang lihat kilatan cahaya ke Legian sebelum kejadian bom. Ada juga rumor ditembak dari pesawat udara. Bahkan rumor bahwa ada pesawat asing tertangkap sinyal radar juga ada. Yang agak mistis, lihat bulan warna merah merona. Kalau yang bulan merah entahlah ya, seingat saya saat itu saya tidak melihat adanya bulan purnama... Mungkin bulannya ada di sebelah timur langit, jadi saya tak lihat.

Kalau cerita mistis pasca bom wuih, lebih banyak lagi. Beberapa masuk koran Bali Post, ada juga yang ditulis jadi topik khusus di suatu majalah. Umumnya bercerita tentang hantu bule naik taksi, bule yang jalan-jalan di lokasibom dalam keadaan badan yang hancur nan gosong, teror suruh balikin barang yang diambil dari korban tewas seperti HP dan perhiasan, sampai kesaksian relawan di TKP bom yang diganggu saat bertugas... Memang sih, ada beberapa bulan sepertinya taksi tidak beroperasi saat malam-malam di sekitaran Kuta saat itu seingat saya.

Kembali saat saya masih SD, beberapa hari kemudian saya bersekolah seperti biasa. Hingga suatu pagi, ayah saya mengajak saya, "Zal, mau lihat-lihat Legian, ke tempat bom?". Seingat saya saat itu hari Jumat, nyaris seminggu setelah bom meledak. Saya pun mengiyakan ajakan ayah saya. Kami berdua naik motor ke Kuta. Saat itu lengang sekali. Toko-toko masih tutup. Beberapa turis saya lihat masih ada di pantai maupun jalan-jalan di trotoar. Pemandangan Jalan Dewi Sartika benar-benar sepi...

Saat lewat Jalan Pantai Kuta, waw... Sepinya bukan main. Hanya ada beberapa tentara dan polisi yang berjaga sambil menyandang senjata. Kemudian kami berbelok ke arah Jalan Legian, di perempatan Jalan Melasti dan Legian, masuk ke Jalan Patih Jelantik. Di situ kami diberhentikan polisi dan dituntun untuk memarkir motor di tempat yang disediakan. Seingat saya dari pertigaan jalan itu, posisi saya sudah di Jalan Legian, saya sudah lihat sebuah rumah yang ambruk atapnya. Di depan rumah isinya batu bata dan kayu saja. Pagar besi depan rumah sudah keriting. Pagar besi loh, dan itu meleyat-meleyot macam kena panas api. Beberapa bangunan saya lihat retak di sana sini. Beberapa bekas mobil terbakar masih dapat terlihat jauh di depan.

Sekarang saya sudah susuri Jalan Legian bersama ayah saya, menuju ke pusat ledakan. Sepanjang saya berjalan, saya lihat banyak ada tentara dan polisi masih siap sedia dengan senjatanya. Beberapa warga juga ada yang tengah melihat-lihat keadaan Legian setelah terkena bom. Seingat saya, pohon banyak yang meranggas. Sampah mobil dan pecahan kaca masih banyak berserakan. Dari jauh, sekitar 100 meter di depan, sebelah kanan jalan saya melihat ada bangunan bertingkat yang atapnya berhamburan semua. Tiang listrik bahkan ada yang miring. Beberapa kabel listrik terjuntai.

Saya berjalan makin dekat, di samping kiri saya, sepertinya bekas butik. Masih terpampang manekin-manekin. Kacanya hancur semua, beberapa manekin terjatuh. Seingat saya, saya masih cukup jauh dari titik pusat ledakan. Sepertinya saya baru berjalan 10 menitan, belum ada 100 meter sepertinya, dan belum terlampau jauh dari tempat parkir. Saya juga belum sampai melewati gedung yang atapnya terlempar semua itu. Kemudian mendadak ada bau anyir, tajam sekali, saya cium. Seperti bau anyir darah dan daging terbakar. Sangat kuat sekali bau tersebut. Saya mual dan nyaris muntah. Saya sampai pusing sekali mencium bau tersebut. Seakan benda sumber bau itu ada di dekat saya.

Ayah saya masih berjalan maju, tapi saya sudah berhenti. Bau itu seperti menghentikan langkah saya. Tiap kali ingin melangkah maju, bau itu bertambah kuat. Asal bau seperti mengelilingi saya semua. Saya berhasil menyusul ayah saya, dan saya minta pulang saja. Ayah saya sepertinya tidak mencium bau tersebut. Beliau biasa saja, dan menyetujui untuk kembali. Itu pertama kalinya saya tahu makna kata "anyir darah manusia" seperti apa. Sepanjang perjalanan pulang, bau anyir dan gosong itu seperti masih membungkus udara di sekitar saya. Saya sampai harus beberapa kali menahan napas. Benar-benar menyiksa. Hal itu terjadi sampai saya di tempat parkir. Baru di situlah bau anyir dan gosong akhirnya menghilang. Kami pun pulang ke rumah, melalui jalan-jalan Kuta yang masih sangat lengang.

Sampai saya SMA, saya tak nyaris pernah menyempatkan diri melintasi Jalan Legian. Agak trauma dengan kejadian bau anyir gosong yang mendadak datang dan pemandangan sekitar yang berantakan. Tiap lewat kadang merinding saja, khawatir ada bom lagi. Hingga akhirnya saya tengah selesaikan skripsi (tahun 2014) dan ingin berlibur ke Bali. Saya pun akhirnya sampai ke Monumen Bom Bali. Akhirnya saya melihat sendiri, bekas Sari Club yang sudah menjadi lahan parkir dan Paddy's Club yang sudah dibangun kembali. Saya tidak ingat namanya apa, semacam pub atau bar juga yang jelas. Saat saya datang, ada beberapa karangan bunga. Namun sayangnya, saya tak dapat mendekat ke monumen untuk memoto daftar nama korban. Jadi, foto di bawah ini saya ambil dari pagar luar. Foto ini saya ambil sekitar awal Januari 2014.

Monumen Bom Bali I, Legian-Kuta





Bila ada sempat saya waktu berkunjung kembali ke Bali, Monumen Bom Bali tersebut merupakan salah satu tempat yang ingin saya kunjungi kembali. Seakan, saya memiliki luka batin yang hendak disembuhkan di tempat tersebut.

1 Oktober 2005

Setelah sekian lama, akhirnya turis pun berdatangan kembali ke Bali. Saya ingat betul, setahun setelah terjadinya Bom Bali I, Kuta nyaris sepi. Sama sekali lengang. Turis masih sangat sedikit yang datang. Beberapa yang datang ada memberikan tanda penghormatan di titik pusat ledakan.

Namun, saat itu sudah 3 tahun dari kejadian Bom Bali I. Perekonomian Bali mulai pulih kembali. Turis-turis mulai banyak yang datang. Sore itu tanggal 1 Oktober, saya lupa hari apa. Saya sudah kelas 1 SMP. Saat itu, entah mengapa sore harinya saya ingin jalan-jalan ke Matahari Kuta Square. Tempatnya dekat dengan Pantai Kuta. Ada banyak cafe dan toko baju, sepatu, macem-macem dah di situ. Saya pun sempat bilang ke ibu, "Bu, mau maen ke Kuta ga? Belanja Baju?". Ibu bilang, "Boleh aja".

Rupanya mendadak saya lupa, saya pun menghabiskan sore hari dengan menonton TV. Saat itu sore, ayah saya akan bersiap berangkat ke Masjid Al Ikhlas. Seingat itu, sebentar lagi azan. Ayah saya pun ke kamar mandi, biasa suka mandi sebelum shalat magrib ke masjid. Tepat saat ayah saya menutup pintu kamar mandi mendadak terdengar suara gelegar yang amat kencang. BLAAAARR! Kaca jendela rumah saya bergetar hebat, begitu juga dengan atap dan plafon. Saya kira ada gempa bumi. Tapi pas sekali ya, momennya saat ayah saya tutup pintu kamar mandi.

Tak lama kemudian ayah saya keluar dan ke kamar tidur, bersalin baju, lalu mengambil motor untuk pergi ke masjid. Saya ingat betul, saya lihat ayah saya saat menginjak pedal untuk ngegas motor, mendadak detuman kedua terdengar. Kali ini lebih besar suaranya. Kaca rumah dan plafon bergetar dengan kuat sekali lagi. Saya sampai berpikir, "apa iya Bapak terlalu bersemangat sampai semuanya bergetar dan suaranya hebat macam ini?". Saat itu saya tak ikut shalat ke masjid, saya di rumah.

Saya masih di luar. Langit sore belum hilang lembayung senjanya, kemudian tetangga depan rumah keluar, ia ke rumah saya. Beliau Bu Bustami, begitu saya memanggil beliau. Beliau kemudian merasa cemas, sempat berbincang dengan saya. Apa ini bom ya? Soalnya kok mirip seperti 2002 yang lalu? Saya bingung, semoga saja tidak. Toh, saya tidak tahu seperti apa saat bom 2002 terjadi, sudah tidur saat itu. Saya pun masuk ke rumah, shalat magrib, dan kembali menonton TV sampai isya datang. Ayah saya masih di masjid saat itu.

Saat itu saya ingat, saya menonton channel Metro TV, ada film dokumenter tentang gunung berapi dan supervolkano. Sekitar jam 8 malam, mendadak film dokumenter dihentikan dan ada tayangan Breaking News tentang terjadinya ledakan bom di Kuta dan di Jimbaran, Bali. Kaget sekali saya. Ayah saya pun pulang dari shalat isya, beliau pun terkejut dengan kabar adanya bom lagi di Kuta-Bali... Plus Jimbaran pula sekarang.

Berita-berita menyebar. Apalagi saat pihak Polri bilang insiden ini merupakan kejadian bom bunuh diri. Polri pun memberikan deskripsi terduga pelaku bom bunuh diri. Nah, inilah saat yang paling tak nyaman bagi saya. Di mana-mana, baik di TV dan di koran, menampilkan foto kepala terduga pelaku bom bunuh diri. Bahkan fotonya itu bukan dalam bentuk sketsa. Tapi memang foto kepala terduga pelaku yang sudah lepas bin hancur itu. Walaupun posisi si kepala pelaku sudah diatur sedemikian rupa hingga bagian leher yang tercabik dan belakang kepala yang hancur berantakan tak terlalu terlihat, tetap saja saat difoto dari depan sorot mata kosongnya itu sangat mengerikan kalau diperhatikan. Apalagi, cabikan akibat bom di lehernya masih cukup jelas terlihat.

Kejadian itu pun terjadi setelah beberapa hari setelah massifnya pemberitaan gambar tiga buah kepala pelaku terduga peledakan bunuh diri. Saya tidur di kamar saya. Saat itu saya tidur di kamar saya yang terletak di depan. Seingat saya, saya tidak bermimpi apa-apa. Namun saat saya bangun, saya melihat salah satu kepala dari pelaku bom tersebut menatap saya dari dekat. Dan makin dekat. Plus dengan tampilan hancur-hancurnya. Saya kaget bukan main.

Ternyata, bukan cuma satu. Kepala pelaku itu pun terbang ke samping kiri, memperlihatkan dua kepala pelaku lainnya, dengan senyuman yang seramnya aduhai. Saya mau berteriak, namun tak sanggup. Malah ketiga kepala tersebut berputar-putar mengelilingi saya dalam jarak yang cukup dekat, mungkin tak sampai setengah meter di hadapan mata saya sendiri. Saat itu pula saya merasa kepala saya sendiri pusing sekali, ingin muntah saya. Saya pun rasa sempit di dada, sulit sekali bernapas. Kepala-kepala itu berputar mengelilingi saya lebih cepat lagi. Tiap kali hendak palingkan pandangan, kepala itu masih ada di sana.

Hingga akhirnya saya bergumam, Ya Allah, ketiga kepala terduga pelaku tersebut lenyap dari pandangan. Saya pun berhasil mengontrol gerak tubuh saya kembali, saya atur kembali napas saya. Benar-benar menakutkan. Saya pun masih terasa terengah-engah. Sepertinya, saya terlalu mengingat detail foto-foto tersebut, sampai akhirnya tampak sangat real ... Waw... O.O Lain kali, jangan terlalu berlarut perasaan pada sesuatu ya, nanti bisa tampak beneran di depan mata... Hehehehehe :v :v :v

Untungnya, peristiwa Bom Bali kedua ini tidak berdampak seperti bom yang sebelumnya. Sekitar satu bulan kemudian, saya bersama seorang saudara bermain ke Kuta, melewati Raja's Cafe, salah satu tempat yang terdampak akibat peledakan bom. Pasca peledakan bom yang kedua, Raja's Cafe tutup. Saya lihat bagian atap kain ciri khas Cafe tersibak sampai ke atas. Beberapa toko di sekitar ada yang masih tutup, ada yang sudah buka. Di seberang Raja's Cafe, beberapa bekas pecahan kaca di etalase toko masih teramati.

Penutup

Benar-benar suatu kejahatan kemanusiaan yang besar, menurut saya... Bom tersebut membunuh banyak orang yang bahkan tidak mengerti, mengapa mereka mesti dibunuh. Saya pun masih ingat betul duka masyarakat Bali seperti apa, reaksi-reaksi yang muncul, maupun usaha-usaha rekonsiliasi dan rehabilitasi semua pihak. Saya pun ingat betul bagaimana semua komponen masyarakat Bali bahu-membahu bersatu kembali membangun pariwisata Bali, lebih baik daripada yang sebelumnya, dengan slogan budaya: Ajeg Bali.

Saya pun juga ingat, bagaimana prosesi upacara mecaru dilaksanakan, saat membersihkan Legian dari puing-puing terjangan bom. Apalagi saat Amrozi Cs diadili di Pengadilan Negeri Provinsi Bali, di Denpasar. Tiap hari nyaris, Bali TV menyiarkannya. Saya pun masih ingat, kesaksian para saksi... Ada yang menangis saat memberikan kesaksian. Dan saya ingat sekali ekspresi dingin si Amrozi...

Kini Bali sudah bangkit dari keterpurukannya. Semoga masyarakat Bali selalu dilindungi. Moga para korban kebiadaban teroris tersebut mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Semoga kedamaian dan kerahayuan selalu ada bagi setiap makhluk.

Rabu, 20 Desember 2017

Latihan Membaca Huruf Jawi dan Pegon

Setelah mengenal huruf Jawi pada postingan sebelumnya, kini saya akan menulis sebuah artikel singkat menggunakan huruf Jawi. Karena saya menggunakan bahasa Indonesia, akan ada beberapa ejaan yang berbeda bila dibandingkan dengan ejaan Jawi yang digunakan di Malaysia.


Aksara Jawi, Terengah-Engah Di Tengah Modernisasi

Ilustrasi seseorang yang menulis
dalam huruf Jawi
Hidup di tengah nuansa modern saat ini, tentunya pengaruh budaya Barat sangat terasa. Bahkan dalam bidang literasi dan kesusasteraan di Indonesia saja, masih sangat besar didominasi oleh kebudayaan Barat. Tengok saja, bagaimana kita menuliskan kata demi kata dalam bahasa ibu kita sendiri. Ya, tulisan Latin. Dengan begini, literasi meningkat, namun di lain pihak ada jenis literasi lain yang menurun. Yakni khazanah kebudayaan sendiri yang dahulu pernah berjaya, kini perlahan terlupakan, yakni sistem tulisan tradisional. Ada banyak sistem tulisan tradisional di sepanjang Bumi Katulistiwa ini. Dari Tulisan Incung, Surat Ulu, Lampung, Sunda, Jawa, Bali, Lontara, Mbojo, dan lain sebagainya. Namun, semuanya tengah megap-megap di tengah banjir dan hantaman literasi Latin. Begitu pula dengan Jawi... Atau lebih dikenal sebagai Arab-Melayu...

Minggu, 10 April 2016

Kata Bilangan dan Angka dalam Bahasa Ibrani

שלום עליכם! 

אתם בסדר?

Shalom aleichem? Atem beseder?

Naah,pada artikel kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai angka dan angka dalam bahasa Ibrani. Bahasa Ibrani ini unik, sebab dalam penulisan angka dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan alfabetnya sendir dan menggunakan angka Arab-India yang telah kita kenal. Sebelumnya, yuk, kita sama-sama  kenalan :3

Senin, 28 Maret 2016

Tahun 2016 Pertarungan Para Superhero: Batman v Superman

Poster Film
Semuanya berawal dari perbedaan ideologi masing-masing tokoh superhero. Diawali dengan masa kecil Mr. Wayne yang memilukan, melihat kedua orang tuanya ditembak tanpa ada sebab; kemudian loncat beberapa puluh tahun kemudian saat ada tragedi hancurnya sekian kompleks perkantoran akibat pertarungan Superman di langit. Batman aka Mr. Wayne pun geram. Melompat ke scene lainnya tentang pemilik perusahaan LexCorp, sekaligus peneliti gila, Lex Luthor Jr. Ambisinya dia secara kasat mata hendak menghancurkan Superman. Namun, plot demi plot cerita malah beralih sangat cepat, hingga dapat saya tebak dengan mudah. Batman dihasut agar melawan Superman dengan cara yang sangat halus. Jebakannya sangat rapi, mulai dari bom yang muncul di Capitol, yang mana menewaskan banyak orang (termasuk senator wanita yang membatalkan izin pengangkutan kriptonit), sampai pada pencurian batu kriptonit oleh Batman, dan terungkapnya spoiler keberadaan manusia super lainnya dalam sistem LexCorp yang disadap Batman (sampai sampai si wanita seksi pakai acara nyolong data XD tapi ujung2nya kode halus minta dibukain passwordnya sama Batman)

Pertarungan Batman lawan Superman nyaris saja dimenangkan oleh Batman dengan menancapkan tombak kriptonit ke tubuh si Superman. Brainstorming yang sangat cepat membuat saya juga bingung. Buat apa ada Wonder Woman muncul saat Batman dan Superman sibuk beradu jotos dengan mutan super kriptonit yang dibuat oleh si Lex? Plus lagi ada peluncuran meganuklir ke luar angkasa. Seperti yang saya duga, akhir pertarungan psti dimenangkan oleh para superhero. Namun, Superman juga turut "tewas" dalam pertarungan. Sebab, ia terlalu banyak terpapar oleh kriptonit.

Akhir cerita, si Lex dipenjara, Superman dikubur "secara palsu" (peti matinya keren amat daaah!!! XD). But, it is not over yet. Pada scene terakhir cerita, tanah kuburan si Kent (aka Superman) melayang-layang sedikit, menandakan si manusia super sebenarnya masih hidup. Entahlah, si Wonder Woman dan Batman tahu atau tidak. Semoga sekuel setelah ini masih ada... :)

Logo Batman v Superman
Terhibur atau tidak, yang jelas saya sepertinya bukan tipe yang suka nonton film beginian di bioskop 4D. Kursi digoyang-goyang macam angkot di jalanan yang rusak, tiba-tiba disemburin air dari segala arah (emangnya gue mau mandi apa.... -_-). Plus saat scene pertarungan berlangsung, kursi bioskop mendadak menjadi sarana pijat refleksi terunik yang pernah saya rasakan XD . At least, popcorn-nya mahal, wkwkwkwkw. Dan ternyata, nonton secara 4D itu bikin kepala pusing juga ya. Hehehe... Mungkin belom biasa aja si ucing mah... :D

Back to the topic, sepanjang film saya berusaha berkonsentrasi pada setiap detail film, percakapan, dan filosofi makna, serta ideologi yang hendak disuguhkan pada para sufi (alias SUka FIlm). Namun, rupanya sekali lagi saudara-saudara... Konsentrasi saya dibuyarkan oleh ayunan kursi, semburan air, dan pijat refleksi... XD

Yang jelas pertentangan ideologi antara Batman dan Superman nampak muncul. Apalagi reputasi Superman sebagai manusia super yang nyaris tidak dapat dikalahkan. Pertarungan antara "dewa" dengan "manusia", diwakili oleh Superman dan Batman. Oh, bukan. Si "manusia" diwakili oleh Lex. Lihat saja, ia berhasil mengadu domba kedua jagoan. Lex mewakili sifat-sifat maskulinitas, logika dominansi, dan sangat antroposentrik (wadaaw, bahasa apaan lagi ini??). Akal bulusnya keren sekali. Saya senang dengan karakter villain-nya, namun kurang terasa jahat. Harusnya lebih licik dan jahat lagi. B)

Daaan Wonder Woman pun ikutan nimbrung XD
Emansipasi wanita cuuuy!!! :D
Pertarungan norma-norma pun berlangsung. Mendadak saya jadi teringat kembali tentang pelajaran Etika dan Moral Lingkungan. Apakah kita harus bermazhab teleologis, deontologis, atau keutamaan? Hmm... semua sangat apik dijabarkan pada scene pertarungan film. 

Berbagai macam simbolisme pun juga nampak pada film. Bisa dilihat pada scene Superman mati, di latar belakang nampak 3 macam salib besar. Ini mengingatkan saya pada peristiwa penyaliban Yesus menurut narasi Alkitab Kristen. Dan, sang Superman pun terkapar tewas ditangisi 3 orang. Coba cek narasi di Alkitab setelah Yesus dinyatakan tewas disalib oleh tentara romawi, ada berapa orang yang turun mengambil jasad Yesus? Plus setelah tewas, ada nuansa "Superman akan bangkit". Hal ini dapat dilihat dari scene terakhir. Seperti halnya anak manusia, ia akan bangkit dari kubur bumi.... Mendadak jadi ingat Matius12:40... 
Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikianjuga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.
Tapi ga dilihatin jeda waktu antara si Superman mati, sama pas dia dikubur... :D

Hal lainnya yang sangat penting, yakni ucapan si Lex pada Superman. Ucapannya kira-kira:
Tuhan itu pasti berpihak! Jika Tuhan itu berpihak maka ia tidak adil.
Bagi para penggelut filsafat, pasti pernah ingat yang namanya Teodisa, atau Konsep Keadilan Tuhan. Diasumsikan menurut Lex, Tuhan seharusnya netral. Namun, mengapa Tuhan menyelamatkan orang masuk ke surga? Bukan itu menunjukkan Tuhan tidak netral. Or, God takes side? Percakapannya sangat berbobot. Dia, Lex, menunjukkan, bahwa kekuatan dan kekuasaan absolut akan membawa entitas tersebut dalam kesewenang-wenangan. Keadaan tercerabutnya norma dari akar kehidupan. Tapi semuanya buyar saat asap air menyerang muka entah dari mana datangnya. But, Superman is still a man, not God, is he? So, this hypothetical sentence is not valid then... hehehehe :D

Ini satu lagi om-om siapa ya??? Neptunus? O.o
Lalu, diri scene saat Lex berhasil mempermainkan emosi si Superman, ini menunjukkan manusia dapat mempermainkan "dewa". Entitas gaib itu pun seolah tunduk pada keserakahan umat manusia. Atau dengan kata lain, "Nilai - Nilai Kebaikan" telah mati, sebab tiada kekuatan untuk melawan kehendak bebas umat manusia yang bersifat destruktif. Atau, lebih tepatnya adalah, simbolisasi nilai-nilai sakral yang berubah menjadi hal-hal profan yang pragmatis. Nilai-nilai sakral keagamaan, adat istiadat, tunduk semuanya dalam pergulatan kapitalistik (yang dicirikan oleh monster aneh).

Ada satu scene yang menurut saya aneh sekali. Saat Batman bertarung melawan Superman, ia sempat menorehkan ujung tombak ke pipi Superman. Dan itu membuatnya terluka. Bekas lukanya seperti susah sekali sembuh. Ia pun masih macam tersengal-sengal karena terkena kriptonit. Tapi anehnya, pada scene berikutnya lukanya udah sembuh lagi. Cepet amat ya?? Wong pas berantem ma si monster, ia koid gegara kena tusuk si monster yang juga berbahan dasar kriptonit... XD

OK, segitu aja curcol malam tentang film ini. Semoga masih ada kesempatan untuk curcol lagi pada beberapa film selanjutnya.... :D

Kamis, 25 Februari 2016

Saluton! Ĉu vi parolas Esperanton?

Bendera Pemersatu Penutur Bahasa Esperanto, La Verda Stelo, Si Bintang Hijau
(sumber: wikipedia.org)
Bahasa Esperanto? Bahasa dari planet mana pula ini? Ya, bahasa ini memang sama sekali bukan bahasa resmi dari negara manapun. Namun, mengapa bahasa ini cukup populer di Internet? Walaupun tentunya tidak setenar bahasa Inggris? Malah, mengapa sok sekali penggiat bahasa ini mengatakan bahwa "Esperanto adalah bahasa Internasional, La Internacia Lingvo"? Bahkan di Indonesia ada perkumpulannya segala. Sudah buat asosiasi pula.. Bahkan nanti, tanggal 23-28 Maret 2016 akan mengadakan Trilanda Kongreso de Esperanto di Bandung (cek di sini). Emangnya apa sih Esperanto ini? Apa sih benefit untuk belajar bahasa Esperanto? Yuk kita lihat sama-sama... :3



Zamenhof, pencipta bahasa Esperanto
(sumber : wikipedia.org)
Sekilas tentang Sejarah Esperanto: dari Dunia hingga Indonesia

Berdasarkan fakta sejarah, bahasa Esperanto pertama kali diciptakan oleh LL Zamenhof, seorang okulis pada tahun 1887 melalui bukunya Unua Libro 'Buku Pertama'. Nama asli dari bahasa ini adalah La Internacia Lingvo secara harfiah dapat diterjemahkan menjadi "Bahasa Internasional". Nama "Esperanto" sesungguhnya adalah nama alias (nama pena) dari LL Zamenhof sendiri. Di dalam buku itu, aturan baku tata bahasa asli Esperanto telah disusun dan diberikan beberapa daftar kata.

Tumbuh sebagai seorang poliglot dengan latar budaya beragam bangsa dan bahasa, Zamenhof berpikir "Bagaimana caranya agar mereka dapat saling bersatu dalam satu bahasa yang sama?". Zamenhof berpikir demikian karena sering sekali terjadi keributan di tempatnya hidup, Białystok, hanya karena salah paham. Zamenhof pun membayangkan "Bagaimana pada skala global? Tidakkah ini mengerikan?". Esperanto pun lahir, padahal dia bukan seorang ahli bahasa. Karyanya pun membuahkan hasil, yakni munculnya Kongres Esperanto pertama di Paris pada tahun 1905, hampir dua dekade setelah kelahiran Esperanto.

Bahasa ini diklaim sebagai bahasa termudah untuk dipelajari bagi banyak orang. Selain itu, netralitas politik menyebabkan bahasa Esperanto diklaim sebagai bahasa netral. Maknanya, penggunaan bahasa Esperanto bagi penuturnya tidaklah menyebabkan language imperialism "penjajahan bahasa". So, setiap orang akan menjadi setara kedudukannya. Eksistensi masing-masing bahasa  dan budaya harus dihormati dan dijaga agar tidak punah. Bahasa Esperanto tidaklah dimaksudkan sebagai pengganti suatu bahasa, melainkan sebagai bahasa kedua bagi setiap penutur. Semangat inilah yang mengantarkan disokongnya bahasa Esperanto sebagai bahasa pengantar yang sebaiknya diajarkan di sekolah-sekolah menurut sebuah laporan dari UNESCO (lihat di sini).

Tiga orang Esperantis dari Indonesia (dari kiri ke kanan): Juliet, Eko, dan Ilia
(sumber : jpnn.com)
Perkembangan bahasa Esperanto sangat dinamis. Faktor kegigihan para Esperantis "penggiat Bahasa Esperanto" (red. bedakan dengan mereka yang mengetahui dan dapat berbicara dalam Bahasa Esperanto) untuk menggalakkan penggunaan bahasa Esperanto di dunia internasional dan faktor politis negara tertentu sangat memengaruhi dinamika perkembangan bahasa ini. Namun, sejak tersebarnya internet di seluruh pelosok dunia, para Esperantis semakin unjuk gigi dan berkampanye tentang pentingnya berbahasa esperanto. Hingga ulang tahunnya yang lebih dari 125 tahun, kini bahasa Esperanto telah berkembang menjadi lebih hidup dan perkumpulannya telah banyak ditemukan di berbagai negara, dengan persebaran tertinggi di Benua Eropa, Amerika, dan Asia Timur. Beberapa bahasa artifisial lainnya bahkan lahir juga dari Esperanto, seperti Ido dan Interlingua, namun tidak setenar Esperanto.

Di Indonesia sendiri pergerakan penggiat bahasa Esperanto dapat dilacak hingga akhir zaman kolonial Hindia Belanda (lihat di sini). Perkembangan pergerakan Esperanto mencapai puncaknya pada dekade 50-60an, saat Rangkajo Chailan Sjamsoe Datoe Toemenggoeng, seorang aktivitis perempuan asal Sumatra Barat, mendirikan Indonezia Universala Esperanto-Asocio (IUEA) pada tahun 1952 di Jakarta. Namun, karena tampilan lambang bendera yang mirip komunis (diasosiasikan dengan komunis), dan pergolakan politik Indonesia di pertengahan 60'an menyebabkan gerakan Esperanto menghilang di Indonesia. 

Logo Trilanda Kongreso
Gerakan Esperanto kemudian bangkit kembali di awal era reformasi dengan terbitnya Esperanto-Indonezio Vortaro "Kamus Bahasa Esperanto-Indonesia" oleh Huzairin di Yogyakarta (saya punya bukunya, hehehe :D). Kamusnya tidak dapat dikatakan lengkap, namun sudah menjadi pertanda munculnya kembali pergerakan Esperanto yang telah mati suri selama Orde Baru. Heidi Goes, seorang Esperantis asal Belgia, bahkan telah membidani banyak pembentukan klub-klub Esperanto di beberapa kota di Indonesia. Sebut saja Jakarta dengan klub Esperiga Suno, Bandung Ruĝa Formiko, Bogor Ĉielarka Revo, Makassar Plena Luno, dan Medan Aŭrora Movado. Beberapa kota lainnya pun juga ada Esperantisnya dan nomor kontaknya (lihat di sini).

Perkembangan lebih lanjut bahkan menanjak hingga tercetusnya Kongres Esperanto pertama di Indonesia yang dilaksanakan di Bogor April 2013 (sempat diundang, tapi pas itu lagi UTS hehehe). Inovasi gebrakan Esperanto bahkan semakin menaikkan pamornya dengan Trilanda Kongreso di Bandung akhir Maret nanti.

Sekilas tentang Tata Bahasa Esperanto

Sekilas gambaran bahasa Esperanto
1. Alfabet
Sebelum beranjak ke hal-hal teknis tata bahasa, lebih dahulu diperkenalkan alfabet Esperanto. Alfabet ini sama seperti alfabet Latin, dengan penambahan beberapa huruf beraksen. Di komputer maupun ponsel dan tablet sekarang, banyak yang telah menyediakan fasilitas untuk menulis alfabet Esperanto. Secara berurutan alfabet Esperanto adalah sebagai berikut:

A B C Ĉ D E F G Ĝ H Ĥ I J Ĵ K L M N O P R S Ŝ T U Ŭ V Z.

Semua alfabet konsonan dieja dengan bunyi -o. Semua huruf dibaca seperti dalam bahasa Indonesia, dengan beberapa pengecualian:

dibaca TS seperti TSunami
Ĉ dibaca C seperti CiCak
dibaca seperti Ego
Ĝ dibaca J seperti baJa
Ĥ dibaca KH seperti aKHir
Ĵ dibaca seperti aZure (bahasa Inggris), atau paling mudah ZH
Ŝ dibaca SY seperti maSYarakat
Ŭ dibaca seperti kalaU, ataU, saUdara, paraU, bakaU, lampaU (bunyi luncuran)

Pada ejaan lama, sebelum ada huruf non-Unicode, digraph cx, gx, hx, jx, sx, ux kadang digunakan. Ejaan alternatif lainnya adalah, ch, gh, hh, jh, sh, dan u. Namun, penulisan ini sudah mulai ditinggalkan.


2. Karakteristik Bahasa Esperanto
Bahasa Esperanto bersifat aglutinatif, sedikit memiliki inklinasi kata, dan semua tata bahasa berlaku tanpa "pengecualian". Disebut aglutinatif karena, untuk membentuk kata baru kita hanya perlu menambahkan suatu awalan atau akhiran untuk mengubahnya. Persis seperti bahasa Indonesia, yang membentuk kata kecantikan dari kata dasar cantik yang diberi imbuhan ke-...-an. Inklinasi yang dimaksud adalah perubahan bentuk kata akibat kasus gramatika tertentu, seperti halnya dalam bahasa Inggris, I eat, I ate, I will eat. Atau mungkin lebih jelas dalam bahasa Arab, ada kataba, yaktubu, taktubu, dll. Dapat disebut "tanpa pengecualian", sebab semua rancang bangun gramatikanya sangat teratur, semuanya reguler. Tidak ada kata kerja ireguler seperti dalam bahasa Arab, Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Korea, dll. Tidak ada bentuk jamak tak teratur seperti dalam bahasa Arab, Inggris, Jerman, dll. Semuanya TERATUR. Walaupun demikian, ada sedikit ketakteraturan dan ambiguitas dalam bahasa ini (lihat bagian Kritik terhadap Bahasa Esperanto).

Secara garis besar, akhiran dalam bahasa Esperanto dapat digolongkan ke dalam 2 kelas, yaitu: akhiran vokal (-a, -i, -u, -e, -o, -j) dan akhiran konsonan (-as, -is, -us, -os, -n). Akhiran dalam bahasa Esperanto akan menunjukkan kelas kata yang dimaksud. Misal, akhiran -a menandakan ajektiva, sedangkan -o menandakan nomina. Akhiran jamak ditandai dengan -j sedangkan kasus akusatif ditandai dengan -n. Kombinasi keempat akhiran ini memproduksi beragam jenis akhiran sesuai dengan kelas kata, adjective-noun agreement, dan kasus yang dilekatkan pada kata, yakni: -a, -aj, -an, -ajn, -o, -oj, -on, -ojn

Sementara itu, akhiran -e cenderung berfungsi sebagai adverbia. Tapi kadang juga berfungsi sebagai kasus akusatif, datif, dan lokatif. Akhiran -e dapat dikombinasikan dengan akhiran -n, sehingga membentuk 2 kemungkinan, yakni -e dan -enSisa dari akhiran tersebut sangat berkaitan dengan inklinasi verba, baik kala waktu maupun modus. Akhiran -as, -is, dan -os masing-masing digunakan untuk menandakan kala waktu masa kini (present), masa lampau (past), dan masa depan (future). Akhiran -i, -u, dan -us masing masing menandai bentuk infinitif, modus imperatif atau jusif, dan modus subjungtif. Namun, aturan tersebut tidak berlaku untuk kata ganti orang dan kata penghubung serta beberapa kata lainnya. Sebagai contoh:

Saya suka makan nasi di pagi hari
Mi ŝatas manĝi rizon matene.

Kalimat tersebut dapat dianalisis menjadi:
Mi                                               Saya
Ŝatas                                          Suka (ŝat-as)
Manĝi                                         Makan (manĝ-i)
Rizon                                          Beras (riz-o-n)
Matene                                       Pagi (maten-e)

Kata mi menunjukkan "saya" yang berperan sebagai subyek, ŝatas sebagai verba bantu  "suka" yang berkala waktu presentmanĝi sebagai verba utama "makan" dalam bentuk infinitif, dan rizon "nasi" sebagai obyek akusatif. Tak lupa matene sebagai kata terangan "di pagi hari". Terlihat simpel, bukan?

Bahasa Esperanto memiliki struktur kalimat yang lentur, tidak terikat kedudukan kata dalam kalimat. Jadi subyek, obyek, predikat dan fungsi lainnya dapat diletakkan secara bebas. Namun, ada kecenderungan untuk memakai pola SVOK. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh penutur bahasa Esperanto yang banyak merupakan penutur bahasa-bahasa yang menggunakan pola SVOK.

Hal lainnya dari struktur gabungan kata, kadang ada yang menggunakan pola DM (diterangkan-menerangkan), namun banyak juga yang menggunakan pola MD (menerangkan diterangkan). Hal ini dapat kita lihat dari beberapa contoh berikut:

1. Apel merah itu ada di atas meja.
La ruĝa pomo estas sur la tablo.
La pomo ruĝa estas sur la tablo.
Estas sur la tablo la ruĝa pomo.
Estas sur la tablo la pomo ruĝa.
Sur la tablo estas la ruĝa pomo.
Sur la tablo estas la pomo ruĝa.
Estas la ruĝa pomo sur la tablo.
Estas la pomo ruĝa sur la tablo.

2. Buku ini tidak kumiliki.
Tiu libro ne apartenas al mi
Libro tiu ne apartenas al mi.

3. Kawanku telah berbicara banyak dengan Tuan Robert.
Mia amiko jam parolis multe kun Sinjoro Roberto.
Amiko de la mia jam parolis multe kun Sinjoro Roberto.

Terlihat bahwa bahasa Esperanto cukup fleksibel dan mudah diacak susunan katanya berdasarkan jabatan kata dalam kalimat. Namun, pengaturan satuan fungsi kata beberapa ada yang rigid

3. Nomina dalam Bahasa Esperanto

Nomina dalam bahasa Esperanto memiliki akhiran -o. Tidak ada perbedaan antara gender maskulin dan feminin. Penanda maskulin dan feminin dapat kita lihat dari akhiran -ino (f), -ĉjo (m), atau -njo (f). Pada keadaan dasar, -o sebenarnya memiliki makna tersirat sebagai gender maskulin atau netral, penambahan -ino lah yang mengubahnya menjadi nomina bergender feminin. Seperti patro "ayah" (harfiah: "orang tua/orang tua laki-laki) menjadi patrino "ibu" (harfiah: orang tua perempuan). Namun, seiring berkembangnya bahasa Esperanto, mulailah diperkenalkannya -njo untuk perempuan dan -ĉjo untuk laki-laki, seperti panjo "mama" dan paĉjo "papa". Hal ini dimaksudkan agar akhiran -o lebih netral. Namun, kedua akhiran tersebut tidak digunakan dalam situasi formal, hanya situasi informal. Tetap saja, dalam banyak percakapan informal  bahasa Esperanto saat ini akhiran -o cenderung digunakan untuk gender maskulin atau netral.

Bahasa Esperanto tidak mengenal kata sandang tak tentu, seperti atau an dalam bahasa Inggris. Untuk menyatakan sebuah apel, dalam bahasa Esperanto hanya langsung diterjemahkan sebagai pomo (bandingkan dengan Inggris an apple, Jerman ein Apfel). Namun, kata unu dapat digunakan, namun bukan sebagai kata sandang tak tentu, melainkan untuk menyatakan satu buah dari kumpulan yang dimaksud dan bukan lagi dari hal-hal yang lain, seperti dalam contoh kalimat:


1. Saya ingin membaca sebuah buku. (bisa buku apa saja)

Mi volas legi libron.
2. Saya ingin membaca sebuah buku. (hanya buku dari genre tertentu, bukan genre yang lain. Namun, buku itu bisa buku apa saja, sesuai dengan konteks kalimat dalam percakapan)
Mi volas legi unu libron.

Untuk kata sandang tentu, hanya tinggal menambahkan kata la yang sepadan dengan the dalam bahasa Inggris. Kata sandang ini sama sekali tidak berubah akibat perubahan kasus.


1. Rumah itu besar

La domo estas granda.
2. Aku melihat rumah itu.
Mi vidas la domon.

Kata sandang la bila disatukan dengan adjektiva, dapat mengubah kata tersebut menjadi nomina, namun dengan konsep arti yang berbeda. Perhatikan contoh kata berikut.

Angla           (inggris, keinggrisan, bersifat seperti bahasa/orang inggris)

La angla      (bahasa inggris)
Blua             (biru sifat)
La blua         (yang ber@warna biru)
Mia               (milikku, punyaku; Inggris my)
La mia          (kepunyaanku, kepemilikanku; Inggris mine)

4. Pronomina dalam Bahasa Esperanto
Bahasa Esperanto memiliki beberapa macam pronomina (kata ganti), tidak seperti bahasa lainnya, bahasa Esperanto sangat spesifik membagi kategori kata ganti pada orang ketiga berdasarkan modus normal, refleksif, dan modus tak tentu. Untuk memudahkan pemahaman, perhatikan Tabel 1 di bawah ini!

Tabel 1. Pronomina dalam bahasa Esperanto

Orang ke-
Modus
Jumlah
Tunggal
Jamak
Pertama
Formal/Informal
Mi
Ni
Kedua
Formal
Ci / Vi
Informal
Vi
Ketiga
Laki-Laki
Li
Ili
Perempuan
Ŝi
Refleksif
Si
Tak tentu
Oni, Ĝi

Dapat diperhatikan bahwa seluruh akhiran pronomina berakhiran huruf -i. Akhiran pronomina dapat disisipi akhiran -n (akusatif, tunggal), -a (objek posesif tunggal, nominatif), -aj (objek posesif, jamak, nominatif), -an (objek posesif, tunggal, akusatif), atau -ajn (objek posesif, jamak, akusatif). Dengan demikian, perubahan deklinasi lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.


Tabel 2. Deklinasi pronomina bahasa Esperanto

Nominatif
Akusatif
Genitif
Tunggal
Jamak
Nominatif
Akusatif
Nominatif
Akusatif
Mi
Min
Mia
Mian
Miaj
Miajn
Ni
Nin
Nia
Nian
Niaj
Niajn
Vi
Vin
Via
Vian
Viaj
Viajn
Ci**
Cin
Cia
Cian
Ciaj
Ciajn
Li
Lin
Lia
Lian
Liaj
Liajn
Ŝi
Ŝin
Ŝia
Ŝian
Ŝiaj
Ŝiajn
Ili
Ilin
Ilia
Ilian
Iliaj
Iliajn
Si*
Sin
Sia
Sian
Siaj
Siajn
Oni***
Onin
Onia
Onian
Oniaj
Oniajn
Ĝi****
Ĝin
Ĝia
Ĝian
Ĝiaj
Ĝiajn

*    Secara hipotetik dapat memiliki bentuk sebagai nominatif. Akan tetapi, dalam praktiknya 
si  tidak pernah bertindak sebagai subyek dalam suatu kalimat. Bentuk nominatif baru akan muncul bila ada preposisi sebelumnya, contoh: li vidas al si "dia melihat dirinya sendiri". Dalam bentuk kolokial, si sangat sering dipergunakan. Kata lain yang juga sering dipergunakan adalah mem (tidak memiliki deklinasi pronomina). Kata mem mengikuti pronomina bentuk nominatif atau akusatif, seperti dalam contoh: vi vidas vin mem "kau melihat dirimu sendiri".Keterangan:

**   Bentuk Ci sangat jarang ditemukan dalam literatur kontemporer, walaupun pada proposal bahasa Esperanto Zamenhof, kata Ci ini ada untuk membedakan konteks berbicara kepada lawan bicara. Terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia adalah Anda.
***    Pronomina ini dapat bertindak sebagai orang ketiga tunggal atau jamak. Terjemahan bebasnya "seseorang" atau "orang-orang", misal dalam kalimat: oni diras ke mi ne estas homo "seseorang berkata bahwa aku bukanlah manusia" atau "orang-orang berkata bahwa aku adalah seorang manusia". Dalam bahasa Inggris, oni kadang diterjemahkan menjadi itsomeone, atau people.
****   Pronomina ini sejatinya merupakan terjemahan leksikal untuk it dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Esperanto, pronomina ini cenderung digunakan untuk menyebutkan benda-benda mati (abiotik), hewan (dalam konteks umum), bahkan bayi dan anak-anak.

Untuk cara penggunaannya, perhatikanlah contoh-contoh kalimat di bawah ini!

1. Aku minum susu tadi pagi.

Mi trinkas lakton matene.
2. Kamu akan pergi ke mana lagi?
Kien ajn vi volas iri?
3. Apakah yang akan Anda tulis?
Kion Ci skribos?
Kion Vi skribos?
4. Dia (m) tidak tahu mengenai rumah hijau itu.
Li ne scias pri tiu verda domo.
5. Aku pernah bertemu dengannya (f) di Jakarta empat tahun lalu.
Mi jam renkontis kun ŝi en Ĝakarto kvar jaroj antaŭe.
6. Itu tidak benar.
Ĝi ne pravas.
7. Dia membasuh kakinya (kaki dia sendiri) dengan air.
Li lavas sian piedon kun akvo.
8. Dia membasuh kakinya (kaki orang lain) dengan air.
Li lavas lian piedon kun akvo.
9. Orang-orang berkata bahwa di hutan itu ada istana.
Oni diras ke en tiu arbaro estis palaco.
10. Kami akan pergi ke kota minggu depan.
Ni iros al la urbo en venonta semajno.
11. Kalian akan pulang ke rumah kapan?
Kiam vi (ĉiuj)  iros al la domo?
12. Apakah Anda sekalian ingin makan malam di restoran yang dekat Kota Tua?
Ĉu Vi (ĉiuj) volas vespermanĝi en restoracio kiu proksime kun Maljuna Urbo?
Ĉu Ci (ĉiuj) volas vespermanĝi en restoracio kiu proksime kun Maljuna Urbo?
13. Mereka sedang mengerjakan tugas di perpustakaan.
Ili farantas laboron en biblioteko.

5. Bilangan dan Angka dalam Bahasa Esperanto
Bilangan dalam bahasa Esperanto berbasis sepuluh, seperti bahasa Indonesia, Inggris, Jerman, Arab, Ibrani, dll. Untuk penulisannya memakai lambang angka Arab-India yang telah kita kenal luas sehari-hari. Berikut ini adalah bilangan kardinal 1-30.

0 Zero/nulo
1 Unu
2 Du
3 Tri
4 Kvar
5 Kvin
6 Ses
7 Sep
8 Ok
9 Naŭ
10 Dek
11 Dek unu
12 Dek du
13 Dek tri
14 Dek kvar
15 Dek kvin
16 Dek ses
17 Dek kvin
18 Dek ok
19 Dek naŭ
20 Dudek
21 Dudek unu
22 Dudek du
23 Dudek tri
24 Dudek kvar
25 Dudek kvin
26 Dudek ses
27 Dudek sep
28 Dudek ok
29 Dudek naŭ
30 Tridek

Setelah melihat pola pembentukan kata bilangannya, sekarang cobalah mengombinasikan berbagai macam bilangan hingga satu miliar. Sebelumnya, diperkenalkan dahulu beberapa bilangan lain.

40 Kvardek
50 Kvindek
60 Sesdek
70 Sepdek
80 Okdek
90 Naŭdek
100 Cent
1000 Mil
10000 Dekmil
100000 Centmil
1000000 Miliono
10000000 Dekmiliono
100000000 Centmiliono
1000000000 Miliardo
1000000000000 Triliono
1000000000000000 Biliono

Bila digabung dengan kata benda untuk menerangkan jumlahnya, maka kata bilangan ini tidak berubah mengikuti kasus kata bendanya. Contoh:

1. Aku telah baca dua buku.
Mi jam legas du librojn.
2. Dua buku itu besar.
Du libroj tiu estas grandaj.

Kata bilangan ordinal dikenal dengan tambahan akhiran -a, sehingga pertama menjadi unuakedua menjadi duaketiga menjadi triakesepuluh menjadi dekakelima belas menjadi dek kvinakeempat puluh satu menjadi kvardek unuakeseribu sembilan ratus lima puluh enam menjadi mil naŭ cent kvin dek sesa, dan sebagainya.

Bilangan pecahan dalam bahasa Esperanto ditandai dengan akhiran -ono, sehingga, setengah menjadi duonosepertiga menjadi trionotiga per empat menjadi tri kvaronotiga per lima menjadi tri kvinono, dan lain sebagainya. Namun, berbeda dengan seperseratus (persen), diterjemahkan sebagai percento. Until Bilangan pecahan lainnya, dapat digunakan pola X po Ysepertiga menjadi unu po tritiga per lima menjadi tri po kvinsebelas per dua belas menjadi dek unu po dek du, dll. Pola X po Y sering digunakan pada penyebutan jumlah harga persatuan barang. Contoh:

Harga buku ini seratus ribu rupiah.
La libro kostas po cent-mil rupiaho.

Sementara itu, bilangan multlipisitas ditandai dengan akhiran -foje. Sehingga, sekali menjadi unufojedua kali menjadi dufojetiga kali menjadi trifoje. Namun, begitu tidak pernah bukan nulfoje atau zerfoje, tetapi pakai kata neniam (lihat Kata Korelasi). Akhiran -obla juga dapat dipergunakan untuk menandai kekerapan kejadian.

Akhiran -e juga dapat ditemukan, namun digunakan secara terbatas, seperti dalam contoh kalimat berikut:

Pertama, saya akan berterima kasih kepada orang tua saya yang telah membesarkan dan mendidik saya hingga sekarang.
Unue, mi dankas al mia gepatroj, kiu kreskigintas kaj instruintas mi al nun.

6. Kasus Akusatif dalam Bahasa Esperanto
Kasus akusatif dapat berperan dalam banyak hal. Secara garis besar, akhiran penanda akusatif, -n, dapat menunjukkan obyek langsung dan arah pergerakan benda. Hal ini dapat dikenali pada Bahasa Jerman dan beberapa bahasa Indo-Eropa lainnya.

1. Dia makan roti di ruang tamu.
Li manĝas panon en salono.
2. Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Li iras en sian ĉambron.

Karena preposisi dalam bahasa Esperanto hanya boleh ada satu, maka preposisi lainnya yang menunjukkan adanya pergerakan diganti dengan akhiran akusatif -n.

7. Adverbia dalam  Bahasa Esperanto
Akhiran adverbia -e dalam bahasa Esperanto dapat digunakan dalam banyak hal. Secara umum, akhiran ini berfungsi sebagai adverbia, namun dapat berfungsi sebagai penunjuk lokasi maupun pergerakan ke arah lokasi benda.

1. Akhirnya aku dapat bertemu denganmu.
Finfine mi povas renkonti kun vi.
2. Dia lari dengan cepat.
Li kuras rapide.
3. Sarah berada di rumah.
Saraho estas hejme.
Saraho estas en hejmo.
4. Aku akan kembali ke (dalam) rumah.
Mi revenos al hejmo.
Mi revenos hejmen
5. Salju turun di musim dingin di Eropa pada bulan Desember.
Neĝo falas en vintro en Eŭropo en Decembro.
Neĝo falas vintre Eŭrope Decembre.

Dengan kata lain preposisi en dapat digantikan pula menjadi akhiran -e. Sementara itu al ...-o atau en ...-on dapat digantikan pula menjadi ...-en. Sifat ini unik dikenal pada bahasa-bahasa Slavik.

8. Adjektiva dalam Bahasa Esperanto
Untuk hal adjektif dan nomina, kedua hal ini selalu sesuai dengan jumlah dan kondisi kasus. Adjektiva tidak dipengaruhi oleh gender dari nomina. Perhatikan contoh kalimat berikut ini:

1. Rumah hijau itu besar

La verda domo estas granda.
2. Rumah-rumah yang hijau itu besar
La verdaj domoj estas grandaj.
3. Aku melihat laki-laki tinggi
Mi vidas altan knabon.
4. Aku melihat laki-laki (jamak) yang tinggi
Mi vidas altajn knabojn.

9. Verba dalam Bahasa Esperanto 

Akhiran penanda verba dapat berubah bergantung modus dan/atau kala waktu kerja. Dan yang paling melegakan dalam mempelajari bahasa ini adalah semua bentukan kata bersifat teratur dan tidak dipengaruhi oleh gender jumlah, maupun jenis persona subyeknya. Hanya tinggal memberi tanda kala waktu, maka selesailah urusan. :)
Terjemahan: Tetap tenang dan berbicara
dalam bahasa Esperanto

1. Saya makan (lampau).

Mi manĝis.
2. Saya makan.
Mi manĝas.
3. Saya akan makan.
Mi manĝos.

Lalu, bagaimana dengan unsur perfektif/imperfektif, sinambung, dan juga modus pasif? Bahasa Esperanto telah dibekali unsur-unsur modus tersebut dengan menggunakan kata kerja esti "adalah" atau dengan membentuk suatu inklinasi partisip aktif maupun pasif. Untuk memudahkan, silakan perhatikan tabel di bawah ini.


Tabel 3. Daftar inklinasi verba dalam bahasa Esperanto



Kala Waktu
Indikatif
Partisip Aktif
Partisip Pasif
Infinitif
Jusif
Subjungtif
Sekarang
manĝas
manĝanta
manĝata
manĝi
manĝu
manĝus
Lampau
manĝis
manĝinta
manĝita
Akan Datang
manĝos
manĝonta
manĝota

Bentuk indikatif adalah bentuk verba biasa. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bentuk simple pada berbagai macam tenses. Bentuk infinitif, jusif, dan subjungtif masing-masing digunakan dalam berbagai situasi yang berbeda.


Infintif biasa digunakan pada kata kerja yang didahului oleh kata kerja lainnya. Seperti dalam bahasa Inggris, i want to sleep dalam bahasa Esperanto menjadi mi volas dormi. Kadang, infintif verba dapat digunakan sebagai bentuk gerund dalam bahasa Inggris, seperti dalam kalimat i like swimming dalam bahasa Esperanto menjadi mi ŝatas naĝi. Sementara itu, bentuk jusif dapat digunakan dalam modus imperatif atau jusif. Modus imperatif adalah bentuk perintah terhadap orang kedua tunggal/jamak. Namun bila digunakan bersama dengan pronomina atau bentuk por ke (verba), maka artinya akan menjadi berbeda. Perhatikan kalimat di bawah ini:


1. Pergi!

Iru!
2. Makanlah!
Manĝu!
3. Silakan minum!
Bonvolu trinki! (bonvolu dalam penulisan kadang disingkat bv.)
4. Mari kita pergi!
Ni iru!
5. Biarlah dia pergi.
Lasu li iri.
6. Aku memintanya untuk menulis surat ini.
Mi petas por ke li skribu tiun leteron.
7. Semoga makin cantik.
Estu pli bela.
8. Seseorang berkata agar kamu jangan masuk ke ruangan ini.
Oni diras por ke vi ne eniru al ĉi tiu ĉambro.

Lain halnya dengan bentuk subjungtif, bentuk ini selalu memiliki arti jika (verba). Uniknya, bahasa Esperanto tidak memandang bentuk absolut waktu, seperti bahasa Inggris, walaupun kata tersebut diucapkan di masa kini, lampau, atau masa depan. Sifat subjungtifnya relatif. Perhatikan contoh kalimat di bawah ini:


1. Aku akan pergi bila kamu menyuruhku datang.

Mi iros se vi petus al mi por iri.
2. Jika aku punya uang aku akan telah beli mobil.
Se mi havus monon mi jam aĉetis aŭton.
3. Jika ia (m) dulu tidak menulis surat untuk dia (f), mungkin keluargaku tidak tahu kalau dia selamat.
Se li ne skribus leteron al ŝi, eble mia familio ne scios ke li estis sekura.
4. Jika surga dan neraka tidak pernah ada, apakah kamu akan tetap setia pada Tuhan?
Se paradizo kaj infero neniam estus, ĉu vi estas ankoraŭ fidela al Dio?

Bahasa Esperanto memiliki 2 macam bentuk partisip. Masing-masing bentuk partisip memiliki makna yang berbeda-beda apabila dipasangkan dengan verba esti atau diubah menjadi bentuk infinitif. Bentuk partisip aktif maupun pasif dapat menyiratkan 3 macam makna, yakni: progresif (belum selesai), perfektif (telah sempurna selesai), atau prospektif (akan segera dilaksanakan). Perhatikan tabel inklinasi verba berikut ini.


Tabel 4. Modus aktif verba bahasa Esperanto

Kala Waktu
Simpel
Progresif
Perfektif
Prospektif
Sekarang
Mi manĝas
Mi manĝantas
Mi estas manĝanta
Mi manĝintas
Mi estas manĝinta
Mi manĝontas
Mi estas manĝonta
Lampau
Mi manĝis
Mi manĝantis
Mi estis manĝanta
Mi manĝintis
Mi estis manĝinta
Mi manĝontis
Mi estis manĝonta
Masa Depan
Mi manĝos
Mi manĝantos
Mi estos manĝanta
Mi manĝintos
Mi estos manĝinta
Mi manĝontos
Mi estos manĝonta
Subjungtif
Mi manĝus
Mi manĝantus
Mi estus manĝanta
Mi manĝintus
Mi estus manĝinta
Mi manĝontus
Mi estus manĝonta
Jusif
Mi manĝu
Mi manĝantu
Mi estu manĝanta
Mi manĝintu
Mi estu manĝinta
Mi manĝontu
Mi estu manĝonta
Keterangan:
Mi           = saya
Manĝi     = makan

Arti kalimat dari tabel tersebut:

mi manĝas      = saya makan
mi manĝantas = saya sedang makan
mi manĝintas  = saya telah makan (baru saja)
mi manĝontas = saya akan segera makan
mi manĝis       = saya makan (dulu)
mi manĝantis  = saya sedang makan (dulu)
mi manĝintis   = saya telah makan (dulu)
mi manĝontis  = saya akan makan (dulu)
mi manĝos      = saya akan makan
mi manĝantos = saya akan sedang makan
mi manĝintos  = saya akan telah makan
mi manĝontos = saya nanti akan segera makan
mi manĝus      = jika saya makan
mi manĝantus = jika saya sedang makan
mi manĝintus  = jika saya telah makan
mi manĝontus = jika saya akan makan
mi manĝu        = saya makan!
mi manĝantu   = saya sedang makan!
mi manĝintu    = saya telah makan!
mi manĝontu   = saya akan segera makan!

Dengan demikian, dalam bahasa Esperanto bahkan bentuk partisip dapat berfungsi sebagai kata verba baru dengan tambahan modus tertentu. Pada contoh kalimat tersebut, dari verba  infinitif manĝi "untuk makan" berubah menjadi manĝanti "untuk sedang makan", manĝinti "untuk telah makan", dan manĝonti "untuk segera akan makan". Lalu bagaimana dengan bentuk pasifnya? Perhatikan Tabel 3, lalu cobalah terjemahkan kira-kira apa artinya, dan cobalah bentuk verba infinitifnya.


Tabel 5. Modus pasif verba bahasa Esperanto

Kala Waktu
Simpel
Progresif
Perfektif
Prospektif
Sekarang
Ĝi kaptas
Ĝi kaptatas
Ĝi estas kaptata
Ĝi kaptitas
Ĝi estas kaptita
Ĝi kaptotas
Ĝi estas kaptota
Lampau
Ĝi kaptis
Ĝi kaptatis
Ĝi estis kaptata
Ĝi kaptitis
Ĝi estis kaptita
Ĝi kaptotis
Ĝi estis kaptota
Masa Depan
Ĝi kaptos
Ĝi kaptatos
Ĝi estos kaptata
Ĝi kaptitos
Ĝi estos kaptita
Ĝi kaptotos
Ĝi estos kaptota
Subjungtif
Ĝi kaptus
Ĝi kaptatus
Ĝi estus kaptata
Ĝi kaptitus
Ĝi estus kaptita
Ĝi kaptotus
Ĝi estus kaptota
Jusif
Ĝi kaptu
Ĝi kaptatu
Ĝi estu kaptata
Ĝi kaptitu
Ĝi estu kaptita
Ĝi kaptotu
Ĝi estu kaptota
Keterangan:
Ĝi       = Itu, Dia (Bahasa Inggris: it)

Tidak hanya berhenti di sini, bentukan verba baik yang berasal dari partisip aktif dan pasif memperkaya konsep dinamika keadaan suatu benda. Perhatikan ilustrasi berikut!


Saat seseorang sedang makan nasi, maka dia disebut manĝanto yakni "yang sedang memakan", bila ia sebenarnya belum makan namun punya rencana untuk makan nasi maka ia disebut manĝonto yakni "yang akan memakan", dan bila ia telah selesai makan, maka ia disebut manĝinto yakni "yang telah memakan". Begitu pula bentuk pasifnya. Nasi dari yang berturut-turut akan dimakan (manĝoto), lalu sedang dimakan (manĝato), dan akhirnya telah masuk ke sistem pencernaan (manĝito) alias telah dimakan.


Mengubah akhiran menjadi -a akan mengubah fungsi kata menjadi adjektiva yang kemudian dapat digunakan untuk menjelaskan keadaan suatu nomina, misal:


1. Nasi yang akan dimakan itu enak.

Manĝota rizo estas bongusta.
2. Nasi yang sedang dimakan itu enak.
Manĝata rizo estas bongusta.
3. Nasi yang telah dimakan itu enak.
Manĝita rizo estas bongusta.
4. Orang yang akan makan itu ayahku.
Manĝonta homo estas mia patro.
5. Orang yang sedang makan itu ayahku.
Manĝanta homo estas mia patro.
6. Orang yang telah makan itu ayahku.
Manĝinta homo estas mia patro.

Walaupun bahasa Esperanto dibekali dengan inklinasi verba yang cukup kompleks, penggunaannya dalam percakapan sehari-hari sangatlah terbatas. Penutur bahasa Esperanto lebih memilih menggunakan kata keterangan seperti jam "telah" , nune "saat ini" atau sekve "nanti/selanjutnya" untuk menggambarkan modus verba. Bentuk progresif, perfektif, maupun prospektif hasil inklinasi verba jarang digunakan. Namun, bentukan inklinasi ini sering muncul dalam tulisan maupun artikel-artikel berbahasa Esperanto.


Satu hal yang jarang dipakai, namun secara teoretikal dapat dibentuk adalah penggunaan akhiran -e pada bentuk verba partisip. Keadaan ini membentuk sebuah kata yang menggambarkan keadaan keterangan saat suatu kondisi berlangsung. Contoh: 


1. Saat masih kecil aku selalu pergi ke taman ini.
Ankaŭ juninte mi ĉiam ludis al ĉi tiu parko.
2. Saat sedang makan terjadi gempa.
Manĝante estas tertremo.
3. Tertangkapnya dia akan membuat lega seluruh penduduk.
Kaptote lin feliĉiĝos ĉiuj loĝantoj.

10. Kata Penghubung dan Keluarganya dalam Bahasa Esperanto

Kata korelasi dan kawan-kawannya adalah kata tertentu dengan awalan tertentu yang dikombinasikan dengan akhiran tertentu, sedemikian sehingga membentuk arti tertentu yang khas. Lima awalan tersebut adalah ki- (kata tanya), ĉi- (semua), i- (sesuatu, indefinit), ti- (itu, definit), dan neni- (kata negasi). Awalan ini lalu dikombinasikan dengan salah satu dari akhiran ini: -u (umum, orang), -o (khusus, benda), -e (tempat), -a (macam), -el (keadaan, cara), -al (alasan), -es (kepemilikan), -en (tujuan tempat), -om (jumlah), dan -am (waktu). Bila ditabulasikan akan menjadi seperti di bawah ini:

Tabel 6 Daftar Kata Korelatif dalam Bahasa Esperanto
Akhiran
Ki-
Ti-
I-
Ĉi-
Neni-
-u
Kiu
Apa, siapa, yang mana, yang
Tiu
Itu
Iu
Seseorang
Ĉiu
Masing-masing orang, setiap orang
Neniu
Tak seorang pun
-o
Kio
Apa, siapa, yang
Tio
Itu
Io
Sesuatu
Ĉio
Segalanya, semuanya, seluruhnya
Nenio
Tak ada sesuatu pun
-a
Kia
Macam apa, betapa
Tia
Seperti itu, macam itu
Ia
Semacam
Ĉia
Apa saja, segala macam
Nenia
Tak ada yang semacam itu
-e
Kie
Di/dari mana
Tie
Di situ/sana,
Dari situ/sana
Ie
Di suatu tempat, dari suatu tempat
Ĉie
Di/dari mana saja
Nenie
Tak ada di/dari manapun
-al
Kial
Mengapa
Tial
Karena/sebab itu
Ial
Karena suatu alasan
Ĉial
Apapun sebabnya
Nenial
Bukan karena alasan apapun
-es
Kies
Milik siapa
Ties
Miliknya, punya dia
Ies
Milik seseorang
Ĉies
Milik siapa saja
Nenies
Bukan milik siapapun
-el
Kiel
Bagaimana
Tiel
Begitu, demikian
Iel
Dengan suatu cara
Ĉiel
Bagaimanapun juga caranya, dengan cara apa saja
Neniel
Bukan dengan cara apapun
-en
Kien
Ke mana
Tien
Ke situ/sana
Ien
Ke suatu tempat
Ĉien
Ke mana saja
Nenien
Tidak ke mana pun
-om
Kiom
Berapa
Tiom
Sebanyak itu
Iom
Beberapa
Ĉiom
Berapapun juga
Neniom
Tidak berapapun
-am
Kiam
Saat, apabila, kapan
Tiam
Saat itu, kemudian, ketika
Iam
Suatu saat, sewaktu-waktu
Ĉiam
Kapanpun juga, Selalu, Setiap waktu
Neniam
Tidak pernah

Berdasarkan pengalaman pribadi, kata korelatif ini sangat sulit dalam bahasa Esperanto. Terutama membedakan kiu, dengan kio dan tiu dengan tio. Kedua kata ini secara berturut-turut memiliki arti yang sama, yakni apakah/siapa/yang mana/yang dan itu
Kata kio digunakan untuk menanyakan kalimat dengan pertanyaan seperti: (1) "apakah benda itu" (kio ĝi estas?), (2) "apakah yang sedang terjadi?" (Kio okazas?), dan (3) "siapa itu?" (Kio estas?). Sementara itu, penggunaan kata kiu dapat digunakan untuk pertanyaan: (1) "siapa nama kamu?" (Kiu estas via nomo?), (2) "yang mana/siapa yang akan kau berikan?" (Kiu vi aldonos?). Kata tio dan tiu memiliki perbedaan makna. Kata tio sebanding dengan kata it atau that dalam bahasa Inggris, seperti dalam kalimat: "that is a green house" (Tio estas verda domo). Sementara itu, tiu memiliki arti that seperti dalam kalimat: "that house is green" (Tiu domo estas verda). 

Khusus untuk turunan kata ti-, semua arti menunjukkan arti lokasi yang "jauh". Perhatikan saja arti terjemahan bahasa Indonesianya penuh dengan kata itu. Untuk membentuk kata ini, diperlukan imbuhan ĉi. Imbuhan ini ditulis terpisah sebelum atau sesudah kata ti-. Oleh karena itu dapat terbentuk kata, ĉi tiu (ini, orang ini), ĉi tio (ini, barang/benda ini), ĉi tia (seperti ini), ĉi tie (di/dari sini), ĉi tial (karena/sebab ini), ĉi ties (milik ini), ĉi tien (ke sini), ĉi tiel (begini, demikian), ĉi tiom (sebanyak ini), dan ĉi tiam (saat/waktu ini).

Karena tugasnya sebagai kata korelatif, maka kata ki- sering sekali mendapat tugas sebagai penghubung kalimat. Terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah yang. Perhatikan contoh kalimat di bawah ini.

1. Laki-laki yang berdiri di dekat pintu itu adalah ayahku.
La homo kiu staras ĉe la pordo estas mia patro. 
2. Aku tidak kenal orang yang duduk bersama keluargaku itu.
Mi ne scias tiun homon kiu sidas kun mia familio. 
3. Diana pergi ke kota yang penuh dengan bunga.
Diana iras al la urbo kiu estas multe da floroj.
4. Aku tidak tahu buku yang pernah dibaca oleh Ridwan.
Mi ne scias la libron kiu jam legitis Ridŭanon.
5. Dia telah mendengar alasan mengapa ia pergi meninggalkan dirinya.
Ŝi jam aŭdis kialon kial li eliris de ŝi.

11. Preposisi dalam Bahasa Esperanto
Bahasa Esperanto memiliki beragam preposisi. Secara umum, preposisi dalam bahasa Esperanto dapat dibagi ke dalam 2 jenis, yakni preposisi definitif dan preposisi indefinitif. Preposisi definitif adalah preposisi yang jelas menyatakan keberadaan benda relatif terhadap benda lainnya, atau keberadaan benda dalam konteks waktu yang ada. Sementara itu, preposisi indefinitif menyatakan posisi benda yang tidak diketahui secara pasti baik posisi tempat dan waktunya

Al                         Ke
Antaŭ                  sebelum, depan
Apud                   antara
Ĉe                        dekat/sekitar
Ĉirka                   sekitar/sekeliling/seputar
Da.                       dari (glaso da akvo: satu gelas air)
De.                       dari (de mi: dari aku; glaso de akvo: 
                             gelas dari air, sebuah gelas yang 
                             dibuat dari air)
Ekster.                 luar
El.                         keluar dari sebuah tempat
En.                        dalam
Ĝis.                       hingga, sampai
Inter.                     antara
Je.                         kata depan tak tentu, dapat digunakan bila
                               tak ada kata sandang yang tepat untuk
                               digunakan
Kontraŭ               bertentangan, berlawanan
Kun                     dengan, bersama
Malgraŭ               meskipun
Per                      dengan, menggunakan
Po                        tiap-tiap
Por                       untuk
Post                      setelah
Preter                   luar
Pri                        tentang
Pro                      karena
Sen                      tanpa
Sub                      bawah
Super                  atas (setara "above")
Sur                       atas (setara "on")
Tra                       melalui
Trans                    melintasi

12. Derivasi kata dalam Bahasa Esperanto
Bahasa Esperanto memiliki derivasi kata yang bermacam-macam. Secara garis besar, bahasa Esperanto cenderung memakai akhiran untuk membentuk satuan kata baru. Namun, beberapa awalan juga dikenal dalam bahasa Esperanto. Tentunya, bahasa n gramatika yang ada di blog ini sangatlah terbatas. Apabila pembaca tertarik membaca lebih lanjut, pembaca dapat mencoba belajar sendiri melalui berbagai situs seperti:

esperanto web

lernu

Atau, apabila pembaca punya aplikasi Duolingo, pembaca dapat belajar lebih lanjut lagi. Aplikasi-aplikasi pembelajaran bahasa lainnya juga banyak yang menyediakan pembelajaran bahasa secara gratis.

Keuntungan Bahasa Esperanto
Bahasa Esperanto menawarkan kemudahan dalam proses pembelajaran. Bisa dibilang, memang bahasa Esperanto dirancang untuk semudah mungkin dapat dipelajari oleh banyak orang. Hanya terdapat 16 aturan grammar saja, dan semuanya teratur dn tidak bergender.Jika kamu bisa berbahasa Esperanto, klub esperanto kini sudah ada di beberapa tempat di Indonesia. Setahu saya ada di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Batam, Medan, dan Denpasar. Dari kesempatan berkumpul sesama pecinta bahasa Esperanto, bisa berkesempatan mengikuti berbagai kongres Esperanto tingkat dunia. Tentunya hal ini sangat menarik, sebab kita bisa gratis jalan-jalan, bisa memperbanyak relasi pertemanan. Dan jika kita pergi main ke luar negeri, yang ada esperantis-nya, kita bisa menumpang nginep di rumahnya. Sebab, ada jaminan pasvorta servo. Sebab, bahasa Esperanto memiliki ideologi tentang "pertemanan dan kedamaian".Tertarik mempelajarinya? Lalu, nikmati semua keunikan pertemanan dengan banyak orang di dunia... :)

Ketertarikan saya terhadap bahasa Esperanto mulanya muncul karena saya heran ada nama Esperanto di Wikipedia. Saya pelajari sendiri. Dan memang saya akui, bahasa Esperanto relatif mudah untuk dipelajari. Hanya saja, beberapa kata dalam bahasa Esperanto kadang menjebak, karena merupakan false friend, seperti kontroli artinya mengecek, bukan mengontrol dalam artian mengendalikan sesuatu. Komunitas Esperanto juga sangat menyenangkan, walau saya super jarang ikut kegiatannya. Kalau saya pikir, memang bahasa Esperanto memiliki keunggulan di sintaksisnya yang sangat teratur.

Kritik terhadap Bahasa Esperanto
Kehadiran bahasa Esperanto bukannya tanpa kritik. Berbagai macam kritik dilayangkan kepada bahasa maupun Esperantis. Umumnya dapat saya ringkas menjadi 2 bagian: yakni: 1. Dari segi bahasa Esperanto ini sendiri, 2. Dari segi kebudayaan.

OK ringkasnya, bahasa Esperanto adalah bahasa buatan yang tidak berkembang secara alamiah pada awalnya. Sistem gado-gado, main comot kata dari berbagai bahasa Eropa, menyebabkan adanya kritik bahwa bahasa Esperanto terlalu Europe-centric, terlalu berorientasi pada bahasa-bahasa Eropa. Bahasa Esperanto dinilai mudah bukan karena memang bahasanya yang mudah, namun sebagian besar penutur bahasa ini memang memiliki latar belakang bahasa Eropa, minimal 2 atau 3.

Kritik berikutnya dari struktur bahasanya sendiri. Ada anggapan kalau bahasa Esperanto itu terlalu male-centric, atau gampangnya bias ke gender pria. Hal ini bisa dilihat dari struktur kata ayah dan ibu. Ayah dalam bahasa Esperanto adalah patro. Anehnya, ibu dalam bahasa Esperanto menjadi patrino dengan menambah sufiks -in- sebagai pembeda gender wanita. Jika diterjemahkan secara harfiah, maka patr-in-o  memiliki makna ayah-yang wanita. Sangat tidak logis bukan? Mungkin penutur esperantis langsung menjawab, kan orang tua dalam bahasa Esperanto adalah gepatroj? Argumen ini menurut saya salah, sebab tidak memperhatikan derivasi kata yang diberikan. 

Derivasi ge-X-oj menunjukkan kumpulan benda yang terdiri minimal dari dua pasang gender yang berbeda. Sebab, orang tua dalam pandangan gender secara tradisional, terdiri atas ayah dan ibu, maka wajar bila diberi sufiks ge-X-oj. Tapi gimana ceritanya ayah-yang perempuan itu maknanya ibu? Sebab, patr- tidak memiliki arti default orang tua. Tidak hanya pada kata ini saja, brother menjadi frato namun sister malah fratino. Bisa dikatakan set gender secara default dalam bahasa esperanto adalah maskulin. Kalau dilihat dari sejarah asal comot-nya bahasa Esperanto ini, akhiran -in terinspirasi dari bahasa Jerman.  Walaupun ada bahasa lain yang bergender, namun sampai saat ini belum pernah saya lihat dalam berbagai bahasa ada kata ibu yang dibentuk dengan cara memberikan imbuhan feminin  ke kata ayah. Atau mungkin memang akhiran -o itu memiliki gender maskulin? Atau feminin juga? Aahh... mbuhh... hehehehe... Beberapa orang mengkritik masalah ini, kalau bagi saya sendiri memang sangat aneh mendengar kata "ibu" merupakan turunan dari kata "ayah". Hanya aneh saja... :)

Beberapa keanehan atau sarkasnya, hal yang gak logis di bahasa Esperanto, adalah sistem sufiks yang terlalu ekstensif. Salah satu kasusnya adalah mal-. Sufiks ini mempunyai makna berkebalikan. Misal, dekstra artinya kanandan kiri adalah maldekstraFermi artinya menutup dan malfermi artinya membukaLumo artinya keadaan yang terang, banyak cahaya sedangkan mallumo artinya kegelapan, perihal tidak ada cahaya. Sepertinya simpel, namun ada cacat logika di sini. Seolah-olah, dunia hanya terbagi secara biner, kalau bukan ya 1. Pemikiran biner ini dalam beberapa jurnal kritik bahasa esperanto diduga merupakan peninggalan paradigma abad ke-19 yang masih bersifat mekanistik. Cacat logikanya di sini: tidak semua hal merupakan sistem biner, namun ada yang berupa kepekatan peluang. Contoh sederhana, bila ada kegelapan dan perihal terang (bukan keterangan yaa heheheh), apakah tidak ada gradasi dari terang ke gelap? 

Mungkin hal ini dapat dijawab dengan memberikan akhiran -eg- -et- berturut-turut memiliki makna lebih besar dan lebih kecil. Misal ridi berarti tertawa rideti artinya tersenyum ridegi artinya tertawa terbahak-bahak. Tapi ini masih ada kelemahan, bila disandingkan dengan afiks mal-, apakah maleta memiliki arti yang sama dengan granda? Gradasi yang dikonstruksi tidak jelas. Bahkan di antara penutur Esperanto sendiri kadang suka menghindari konstruksi ini sebab membingungkan. Saya sendiri pun juga bingung, hehehehe...

Untuk masalah afiks mal- , kadang ada kata yang kini telah diganti, misal murah dulunya disebut malmultekosta "tidak banyak biaya", sekarang disebut ĉipa adaptasi dari bahasa Inggris cheap..Malluma "tidak terang" alias "gelap", sekarang ada yang mengganti jadi obskura "gelap". Kalau saya pikir, penutur bahasa Esperanto mulai sedikit-demi sedikit merombak morfologi maupun derivasi kata dengan menciptakan kata baru.

Hal lain yang penting dalam suatu bahasa adalah memberikan kemudahan membaca bagi penuturnya, alias sistem tulisan yang secara logis bagi bahasa tersebut untuk mudah diucapkan. Walaupun bahasa Ceko penuh dengan konsonan dan rasanya aneh bila dilihat pertama kali, namun bahasa Ceko tetap memiliki aspek alami yang secara logis menjadi mudah diucapkan. Beberapa bahasa memang memiliki ortografi yang ribet, tapi pas ngucapinnya jadi lebih mudah, contoh bahasa Thailand dan Tibet. Ortografi bahasa Esperanto menjadi sangat aneh bila ada kata-kata tertentu digabungkan membentuk kata majemuk. Misal postscio (English: hindsight). Kalau secara teori, bahasa Esperanto itu satu bunyi satu huruf, lalu bagaimana postscio dapat dengan benar diucapkan? Huruf diucapkan seperti ts dalam kata vetsin. Nah, kalau kata postscio ditulis dalam ortigrafi bahasa Indonesia, ini menjadi poststsio. Itu gimana ceritanya ngucapin ststs di tengah kata secara fonetik. Alias kalau dipenggal per suku kata jadi post-st-sio.... Itu macam ular berdesis jeee... hehehehe :v

Kalau saya sendiri, menganggap masalah fonetik ini memang rada aneh untuk Esperanto. Jadi aturan satu huruf satu fonem tidak dapat berlaku lagi. Saya pribadi cenderung mengucapkan yang termudah. Misal, Postscio saya lafalkan dengan pos-tsio.

Kadang, sifat asal comot dari bahasa Esperanto ini menimbulkan kebingungan pengartian kata. turo dan turi sepertinya berasal dari satu akar kata yang sama, tur-. Namun, rupanya, kedua arti kata ini sama sekali tidak saling terkait secara etimologi. turo berarti menara sedangkan turi berarti bepergian, berwisata. Sebab, memang kedua kata ini diambil dari dua bahasa yang berbeda turo dari bahasa Jerman Tür (menara) sedangkan turi dari bahasa Inggris Tour . Apanya yang dibilang logis dari bahasa Esperanto seperti yang diklaim? I say: No. Bahasa Esperanto tidak selogis dan terstruktur dengan baik seperti yang kita kira. 

Untuk memperbaiki hal ini, ada baiknya bila di kamus Esperanto dijelaskan asal usul kata pengambilan kata. Misal turo (Ger: Tür)... Naah, semacam itu lah... :D

Itu baru kritik dari segi berbahasa. Jika ditinjau dari aspek aksiologi, gunanya bahasa ini apa? Toh sudah ada bahasa Inggris, Perancis, Cina, Jepang,, Arab, Spanyol, Rusia, dll? Inilah yang menjadi titik kelemahan bahasa Esperanto. Bahasa Esperanto tidak disokong luas secara politis oleh berbagai negara dan organisasi internasional. Berapa banyak pertemuan multilateral, bilateral, atau regional saja dalam skala internasional yang menggunakan bahasa Esperanto sebagai bahasa pengantarnya? Jurnal sains bereputasi internasional, terindeks Scopus pulak? Atau minimal negara di dunia yang mempunyai kebijakan bahwa belajar bahasa Esperanto itu sifatnya mandatory (wajib) ? Oleh sebab itu, bahasa Esperanto tetap masih akan bertahan, namun tidak memiliki keuntungan politis, ekonomi, dan sosial. Bahasa Esperanto hanya akan menjadi bahasa bagi yang hobi Esperanto saja. Satu indikator yang paling gampang saja. Apakah seseorang sering mendengar dari turis asing Ĉu vi parolas Esperanton? Paling-paling di pertemuan kongres saja, hehehehe... Piiissss :v Dengan kata lain, Bahasa Esperanto belum memiliki keunggulan komparatif yang menarik agar seseorang mau mempelajarinya.

Tidak hanya diserang dari soal daya tawar politik-sosial-ekonomi, bahasa Esperanto juga diserang dari segi estetika. Why? Sebab, bahasa Esperanto tidak memiliki satu hal yang penting dari unsur humaniora manusia, yaitu: kebudayaan. Tidak jelas, apa yang dimaksud dengan kebudayaan Esperanto itu. Hanya sekadar lagu berbahasa Esperanto?, novel, drama? No. Budaya jauh lebih luas dari itu. Ia mencakup mitologi, sistem kepercayaan, perekonomian, sosial, dan paradigma. Esperanto yang baru "seumur jagung" dan tidak berkembang secara alami menyebabkan bahasa Esperanto tidak memiliki magnet untuk mempelajarinya seperti kita belajar bahasa asing lain. Misal, kalau saya belajar bahasa Jepang. Mengapa jepang? Saya bisa jawab dengan mudah, saya tertarik untuk belajar di sana, saya suka anime, saya suka baca sejarah jepang. :D Esperanto? Mungkin jawaban yang terdengar agak klise: kalian akan mewarisi semua kekayaan peradaban di dunia. Something an illogical thinking is detected here... Why??? Tidak semua penutur esperantis tersebar merata di setiap kebudayaan di dunia kini. Maka, bagaimana caranya seseorang dapat memahami suatu kebudayaan dengan baik bila tidak terinklusi dalam kebudayaan yang dimaksud? Jika tidak terinklusi dengan baik, bagaimana caranya dapat menerangkan kepada orang lain? Tentu sukar sekali.... 

Sedangkan esperanto? Bahkan beberapa artikel cenderung meyebutkan gerakan esperanto ini seperti sebuah "sistem kepercayaan, atau kultus" tertentu. Dari pengalaman yang saya tangkap selama berkenalan dengan pergerakan ini, seolah-olah dengan adanya bahasa Esperanto, kesepahaman antar-umat manusia dapat terfasilitasi oleh penggunaan bahasa yang sama, yakni bahasa auxlang. Argumen ini saya pikir cacat logika. Sebab, kesepahaman antar-komunitas tidak dicapai dengan penggunaan bahasa yang sama, namun adanya tujuan yang sinergis untuk dicapai bersama. Oleh sebab itu, sepanjang pergerakan Esperantis ini saya pelajari, akhir-akhir ini cenderung ke arah penyelamatan bahasa-bahasa asli dari ancaman globalisasi. Jualan para esperantis sudah tidak ke arah sebelumnya.

Untuk blog-blog yang berisi kritik esperanto, silakan meluncur ke link berikut ini! :D
link1
link 2

Untuk masalah kultur bahasa Esperanto sendiri, memang masih banyak perdebatan di kalangan akademik. Saya sih tak ambil pusing. Saya masih tetap mempelajari Esperanto karena suka terhadap struktur inheren fonem, morfem, sintaks, dan sejarahnya. Saya sangat suka akan aspek sosio-linguitik dari suatu bahasa. Memang sih, Esperanto tidak memiliki kebudayaan secara khusus, but at least saya memahami ideologi Esperanto yang ingin dicita-citakan oleh pendahulunya, Dr. Zamenhoff.

Penutup

Masih banyaaaaak kritik-kritik yang dilancarkan. Saya sendiri rupanya memberikan kritik yaa,... hehehe. Walaupun bahasa Esperanto cacat bagi saya tidak masalah. Semua bahasa manusia bersifat relatif dan tidak sempurna. How? Gampaang, di bahasa Inggris aja... butterfly artinya kupu-kupu? Kalau dipisah, artinya jadi gak masuk akal lho, butter - fly alias si lalat mentega.... laaah... gimana ceritanya....:v Di bahasa Indonesia sendiri ada yang gaje juga. Gampaang: coba arti dari kata bebas asap rokok itu apa? Gajebo kan? :v Makannya, ada ungkapan bahwa bahasa itu semuanya cacat sebab tidak mampu menguraikan dunia ide yang ada di kepala kita (saya lupa ini quote dari siapa, hehehehe). Kita maunya apa, tapi ngomongnya apa... hehehe :v

Eksistensi bahasa Esperanto, dengan segala cacatnya, telah ikut meramaikan peradaban dunia. Dan saya merasa senang dapat berkenalan lebih lanjut dengan bahasa ini beserta para penuturnya yang unik-unik. Jika Anda memutuskan untuk mempelajarinya, tidak masalah... :v Bahasa ini memang mudah dipelajari, kalau mau sampai fluent, memang harus sering digunakan, baik secara oral, tulisan, dan percakapan. OK, sekian saja artikel tentang Esperanto ini saya buat, semoga ada pencerahan dari berbagai sisi... :v

Btw, mohon maaf bila ada salah kata terketik. Dan bagi para esperantis jangan langsung kebakaran rambut (kalo jenggot kan belum tentuu punya jenggot... heheheh), sebab ini memang sudah menjadi tradisi kritik mengkritik di bidang ilmu pengetahuan humaniora... hehehe :v 

Akhir kata, selamat ber-Esperanto riaa Ĝis! :D